Tinjauan Hukum Islam Terhadap Mbangun Nikah Setelah Adanya Talak Ba'in Sughra (Studi Kasus di Desa Gandu Kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo)

Regita, Maharesta Fitri Atma (2021) Tinjauan Hukum Islam Terhadap Mbangun Nikah Setelah Adanya Talak Ba'in Sughra (Studi Kasus di Desa Gandu Kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo). Undergraduate (S1) thesis, IAIN Ponorogo.

[img] Text
Etheses maharesta.pdf

Download (2MB)

Abstract

ABSTRAK
Regita, Maharesta Fitri Atma 2021. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Mbangun Nikah Setelah Adanya Talak Ba’in Sughra (Studi Kasus di Desa Gandu Kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo). Skripsi. Jurusan Hukum Kelurga Islam Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo.
Pembimbing Dr. Ahmad Junaidi, M.H.I
Kata Kunci: Hukum Islam, Mbangun Nikah, Talak Ba’in Sughra.
Mbangun nikah adalah dilangsungkannya akad nikah untuk yang kedua kali oleh pasangan suami istri karena suatu alasan. Alasan tersebut adalah untuk memperindah perkawinan, memperkokoh atau untuk kehati-hatian. Lalu bagaimana dengan mbangun nikah yang dilakukan pasangan suami istri di Desa Gandu Kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo.
Dari latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana tinjauan hukum islam terhadap alasan mbangun nikah setelah adanya talak ba’in sughra di Desa Gandu Kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo (2) Bagaimana tinjauan hukum islam terhadap pratik mbangun nikah setelah adanya talak ba’in sughra di Desa Gandu Kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo.
Adapun penelitian ini termasuk penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode kualitatif. Sedangkan teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah menggunakan wawancara (interview) dan observasi. Analisis yang digunakan adalah analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman, yang meliputi tiga langkah: reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), serta penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclusing drawing/verification).
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) Alasan mbangun nikah antara pasangan S dan AR adalah karena keduanya merasa sudah jatuh talak, sehingga mereka sudah resmi bercerai. Dalam hukum islam talak antara S dan AR disebut talak ba’in sughra karena sudah melewati masa iddah. Talak ba’in sughra terdapat dualisme hukum. Pertama, jika menurut fiqih jatuhnya talak tersebut sah, sehingga harus melakukan akad baru melalui mbangun nikah. Kedua, jika menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) talak tersebut tidak sah karena tidak dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama. Jadi ikatan perkawinan tersebut belum putus secara hukum sehingga tidak perlu melakukan mbangun nikah. Maka mbangun nikah yang dilakukan pasangan tersebut sebagai langkah ikhtiyath (kehati-hatian) disebabkan adanya dualisme hukum tersebut. (2) Pelaksanaan mbangun nikah yang dilaksanakan pasangan S dan AR dilaksanakan seperti pelaksanaan pernikahan pada umumnya, memenuhi rukun dan syarat. Ditekankan pada penyataan ijab qabulnya bahwa yang dilakukan adalah mbangun nikah. Pelaksanaan mbangun nikahnya dipandang baik dan sejalan dengan hukum pernikahan dalam islam.

Item Type: Thesis (Undergraduate (S1))
Thesis Supervisor: Ahmad Junaidi
Subjects: 18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1899 Other Law and Legal Studies > 189999 Law and Legal Studies not elsewhere classified
Divisions: Fakultas Syariah > Jurusan al-Ahwal al-Syakhshiyyah
Depositing User: Mr Perpustakaan IAIN Ponorogo
Date Deposited: 24 Nov 2021 06:12
Last Modified: 24 Nov 2021 06:12
URI: http://etheses.iainponorogo.ac.id/id/eprint/16799

Actions (login required)

View Item View Item